Tampilkan postingan dengan label Master of Health Promotion. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Master of Health Promotion. Tampilkan semua postingan

7.3.11

Pembiayaan Kesehatan ( Prof DR dr Samsuridjal Djauzi, SpPD )

Salah seorang tokoh yang saya hormati, setiap hari minggu saya berusaha mengikuti Artikel yang beliau tulis di Koran Kompas rubrik kesehatan.... bukan semata karena kesenioran beliau, namun dari tulisan-tulisannya saya menjadi paham seperti apa "ROADMAP  IDEAL DUNIA KESEHATAN dan PENDIDIKAN DOKTER di INDONESIA"

walau masih terseok -seok.. beliau terus mengingatkan dan mengembalikan optimisme.. semoga semakin banyak dokter dokter muda yang memahami dan bersedia mengikuti hal hal positif dan sangat bermanfaat bagi kemajuan bangsa Indonesai namun tidak mudah dan bahkan boleh dikatakan tidak menarik bagi dunia Industri Kesehatan untuk dilaksanakan..

Demikian cuplikan penggalan Artikel beliau dari Kompas 20 februari 2011 tentang " mendambakan obat murah ( bukan obat murahan lho : ) , dan nanti yang ada didalam kurung adalah tambahan komentar saya*

19.10.10

Promosi Kesehatan ... no man lands ?

Promosi kesehatan adalah seni dan ilmu untuk membantu orang menemukan sinergi antara kehidupan yang produktif dan kesehatan yang baik (optimal), meningkatkan motivasi mereka untuk berjuang untuk kesehatan yang optimal, dan mendukung mereka dalam mengubah gaya hidup mereka untuk bergerak ke arah keadaan kesehatan yang optimal.  
Kesehatan optimal adalah keseimbangan dinamis fisik, emosional, spiritual sosial dan kesehatan intelektual. Perubahan gaya hidup yang mencerminkan sikap hidup sehat dapat dicapai melalui kombinasi pengalaman belajar yang meningkatkan kesadaran, meningkatkan motivasi, dan membangun keterampilan dan yang terpenting keterlibatan semua pihak terutama pemerintah.
Pemerintah ( dan seharusnya juga pihak swasta )mengamalkan dan membuat kebijakan yang selalu memikirkan dampaknya terhadap kesehatan, kebijakan yang diambil membuat pilihan pola hidup sehat menjadi gaya hidup yang tidak mahal, memberikan akses untuk segala lapisan masyarakat untuk memperbaiki kehidupan dari hal-hal sederhana sehari-hari misal jalanan yang aman, lapangan dan taman sebagai paru-paru kota, pembatasan rokok, perbaikan angkutan umum yang nyaman untuk mengurangi pemakaian kendaraan pribadi, asuransi memberikan intensif pada dokter/rs yang bisa menurunkan jumlah pasien berobat terlambat, dll , yang pada intinya membuat masyarakat termotivasi karena sangat didukung jika memilih pola hidup sehat dan pada jangka panjang negara akan kuat karena sehat.

Physical :Fitness, Nutrition,Medical self-care,Control of substance abuse.
Emotional : Care for emotional crisis,  Stress Management 
Social : Communities, Families,  Friends
Intellectual : Educational, Achievement, Career development
Spiritual : Love, Hope, Charity


 Sumber : American Journal of Health Promotion in healthpromotionjournal.com

5.10.10

"Membangun Kemitraan" by Center of Health Promotion, Indonesia

Membangun Kemitraan 
   Telah dijabarkan dalam posting sebelumnya bahwa sektor kesehatan tidak mungkin dapat berjalan sendiri dalam menjalankan program-programnya ( termasuk promosi kesehatan ) dalam mewujudkan kesehatan masyarakat. Demikian pula promosi kesehatan dalam mewujudkan perilaku hidup sehat serta sarana dan prasarana untuk hidup sehat memerlukan dukungan dari luar program dan sektor yang lain. Untuk itulah maka Promosi Kesehatan mencakup kegiatan untuk membangun kemitraan dan aliansi dengan pihak lain, baik didalam sektor kesehatan sendiri ( lintas program ) maupun di luar sektor kesehatan ( lintas sektor ).

Tujuan membangun kemitraan ini adalah untuk memperoleh dukungan sumber daya ( man,money,material ) bagi terwujudnya sarana dan prasarana guna memfasilitasi perilaku hidup sehat masyarakat. Dalam mengembangkan kemitraan maka prinsip umum yang harus dipahami bersama antara sektor kesehatan dengan mitra kerja adalahsebagai berikut:
1. PERSAMAAN ( EQUITY )
Dalam menjalin kemitraan, masing-masing institusi atau lembaga harus menempatkan diri setara atau sama satu dengan yang lain. Tidak ada satu pihakpun yang merasa lebih tinggi, lebih baik,lebih penting dan sebagainya dibandingkan dengan pihak yang lain.
2. KETERBUKAAN ( TRANSPARANCY )   
Dalam memulai kemitraan dengan pihak yang lain, proses kemitraan sampai dengan memonitor dan mengevaluasi kegiatan bersama masing-masing pihak harus terbuka terhadap yang lain, terutama dalam hal sumber daya untuk pelaksanaan kegiatan bersama.

Mengingat begitu banyaknya kepentingan dalam sebuah organisasi, untuk saya adalah penting adalah setiap organisasi mengingat bangsa dan tanah air dimana mereka berada yaitu Indonesia yang menuntut tidak hanya tiap organisasi tersebut memikirkan keuntungan bagi perusahaan tapi adakah sumbangsih kemajuan bangsa, terutama dalam hal ini pencapaian taraf kesehatan rakyat Indonesia yang lebih baik dan lebih penting lagi yaitu "mulai merata"
. dalam hal ini saya akan menambahkan prisip ke tiga yaitu :
3. PENGORBANAN ( SACRIFICE )
Pengorbanan untuk siapa? tentu bukan untuk segelintir orang, bukan untuk orang yang sudah kaya, bukan untuk organisasi/partai politik tertentu, melainkan tiap orang , badan dan organisasi yang bekerjasama nantinya sadar bahwa tidak semua program mereka bersifat menguntungkan. tapi jika dilihat dari kacamata masadepan bangsa, bila rakyat mulai sehat , maka kekuatan untuk memperbaiki ekonomi semakin baik dan dalam jangka panjang iklim usaha dan kestabilan bangsa negara akan sungguh-sungguh tercapai, tidak hanya semata dinikmati segelintir orang pada saat ini.

Sumber : Komitmen Global Dari Ottawa-Jakarta-Nairobi "menuju masyarakat sehat"
Penerbit Pusat Promosi Kesehatan, Departemen Kesehatan Indonesia , 2009






4.10.10

Perlunya merubah "Mind Set" para pembuat kebijakan dan masyarakat luas tentang arti "SEHAT"

Pengertian & pola pikir lama yang terus dipakai hingga kini :
  1. Sehat adalah keadaan tidak terjadinya sakit ( konsep negatif , menggunakan ungkapan "negatif" dan merupakan kata negatif yang tidak diinginkan orang yaitu "menjadi sakit"
  2.  Indikator yang biasa digunakan untuk melaporkan kondisi kesehatan juga didominasi oleh indikator negatif , contoh : Angka Kesakitan (Morbiditas); Kematian (Mortalitas).
  3. Fokus utama kegiatan/ Intervensi yang dilakukan adalah didominasi bidang Kuratif ( pengobatan ), dengan tujuan utama mengurangi angka kematian dan kesakitan , namun sering mengesampingkan usaha-usaha untuk mencegah penyakit timbul , minimnya pengarahan sumber daya maupun biaya dalam bidang pendidikan kesehatan / perbaikan lingkungan dan sebagainya yang sebagai hulu pencegahan sumber penyakit timbul.contoh nyata: dominasi semakin canggihnya sebuah RS dan semakin ahli dan mahalnya biaya berobat kepada dokter dokter Sub-Spesialis , sementara contoh nyata lingkungan sekitar rumah sakit itu sendiri semakin kumuh dan banyak warga yang sakit tidak mampu mengakses biaya berobat ke RS tersebut dan kurangnya kerja sama maupun keseriusan dalam membantu mendidik masyarakat kurang mampu tersebut dalam usaha-usaha pencegahan penyakit & tetap sehat.
  4. Pembuat kebijakan maupun pemilik modal bahkan dunia pendidikan masih beranggapan bahwa Tangggung Jawab Kesehatan adalah semata-mata tanggung jawab Organisasi/ Departemen Kesehatan saja.  Tidak memperhitungkan bahwa Departemen/ Lembaga Swasta manapun dalam membuat keputusan sangat bisa mempengaruhi lingkungan dan kesehatan. Misal keputusan Meningkatkan lagi Penjualan kendaraan bermotor untuk memenuhi target tanpa meninjau lagi tingginya polusi dari kendaraan bermotor yang mengakibatkan meningkatnya angka kesakitan, dll . Keputusan tidak perlu memperbaiki jalan sub kabupaten karena tidak pernah dilewati bupati, padahal sulitnya akses jalan membuat keterlambatan rujukan kasus kegawatan di Puskesmas daerah seperti Kehamilan Resiko Tinggi ,dll sehingga tidak heran Infrastruktur Indonesia yang parah berkontribusi terhadap sulitnya menurunkan Angka Kematian Ibu ( Maternal Mortality Rate ) di Indonesia.
Pengertian & pola pikir baru yang perlu nyata diterapkan :...