1.11.10

Mitos dan Realitas Bencana Alam ( Disaster Management Part 1 )

Banyak asumsi yang keliru berkaitan dengan dampak bencana terhadap kesehatan masyarakat, Perencana dan manajer penanggulangan bencana perlu menyikapi mitos yang sering dijadikan "blue print" strategi penanganan bencana dan mulai melihat kenyataan yang sebenarnya terjadi, rangkumannya sebagai berikut :

  • Mitos: Tenaga Medis latar belakang kedokteran amat dibutuhkan, terutama tenaga ahli, bahkan semakin bantuan tenaga dari luar negeri akan semakin canggih penanganan yang bisa diberikan pada korban bencana.
  • Realitas : Memang ada beberapa tehnologi dari negara maju seperti ruang bedah darurat,dsbnya yang cukup membantu, Namun pada dasarnya Indonesia sudah memiliki segala peralatan standart yang dibutuhkan dalam penanganan bencana, tinggal aturan untuk memobilisasi alat-alat itu belum pasti, Personal Militer dan Departemen PU menjadi perpanjanagn pemerintah di garis depan untuk langkah nyata. Sedangkan Penduduk setempat dengan koordinasi yang tepat sebenarnya sudah mampu memperjuangkan kebutuhan dasar. Bila ada tenaga ahli yang tidak ada di Indonesia baru perlu didatangkan dari luar, misal konsultan dalam memperhitungkan posisi penutup kebocoran LAPINDO
  • Mitos: Epidemi dan Wabah penyakit tidak dapat dihindari setelah berlangsungnya suatu bencana
  • Realitas:Epidemi tidak terjadi secara otomatis dan begitu saja setelah terjadinya bencana, ada faktor pencetusnya, misal sanitasi yang buruk di tempat pengungsi mengakibatkan epidemi diare, bila persiapan dilakukan dengan baik dan setiap saat diadakan evaluasi dan intervensi , misal untuk perbaikan sanitasi dan pendidikan sederhana seperti pembagian sabun untuk tiap tenda dan kewajiban mencuci tangan, maka Epidemi diare bisa ditekan. Kunci pencegahannya adalah sediakan fasilitas yang memadai dan jelaskan serta dampingi masyarakat yang sedang terkena musibah.
  • Mitos: Bencana adalah pembunuh acak 
  • Realitas: Serangan bencana berpola kematian lebih tinggi pada kelompok  rentan, yaitu : wanita, anak-anak, lansia dan kaum miskin yang kesehatannya sudah terganggu jauh sebelum bencana itu datang.
  • Mitos:Bencana membuat manusia memperlihatkan perilaku yang anarkis seperti penjarahan dan kerusuhan.
  • Realitas: ya itu bisa terjadi bila korban bencana mulai putus asa karena tidak diajari dan didampingi ( buka nsemata karena masalah harta benda ),Namun pada dasarnya  dalam diri manusia ada nurani kepedulian terhadap sesamanya, selalu ada banyak orang terketuk untuk memberi bantuan, namun sering tidak tahu bagaimana untuk membantu sesuai dengan kemampuannya masing-masing.
  • Mitos:Penempatan korban bencana di penampungan merupakan alternatif terbaik
  • Realitas: Alternatif itu bisa dijalankan pada penanganan jangka pendek, namun setiap manusia selalu rindu punya tempat tinggal berlindung yang bisa mengakomodasi kebutuhan sekunder dan pelengkapnya yang tidak bias dilakukan jika tinggal terlalu lama dalam tenda-tenda pengungsian. Lembag yang bisa melihat bahaw bencana akan berlangsung lama dan misal pada kasus Gunug Merapi, lokasi aman sudah bergeser dan perlu relokasi warga 10km dari lokasi rumah yang lama kelak, maka dana yang awalya banyak dihabiskan untuk membeli tenda bisa mulai dialihkan untuk membeli bahan-bahan bangunan dan bahan pendukung lain untuk rekontruksi tempat tinggal yang baru.






  • Mitos:Penduduk yang tertimpa bencana terlalu syok dan tidak berdaya mengambil tanggung jawab atas kelangsungan hidup mereka sendiri.
  • Realitas: Bisa syok itu terjadi dalam hari-hari awal gempa, terutama pada korban yg selamat namun kehilangan orang yang dikasihi, tapi tidak semua korban bencana sama sekali kehilangan semua anggota keluarga, masih ada sisa keluarga bahkan tetangga dekat yang sudah seperti keluarga, perlunya pendampingan untuk mengobarkan semangat dan daya juang mereka. Bahkan pada kenyataannya banyak ditemukan kekuatan baru selama masa darurat, ribuan tenaga relawan dari lingkungan sekitar bencana bersatu padu bergotong royonng bergantian mencari korban yang terluka, pembangunan tenda, relokasi warga, pembagian masker, dan sebagainya. namun tenaga mereka bisa serta merta habis tanpa dukungan pemerintah dan sahabat dari berbagai organisasi&LSM yg peduli.
  •  sumber: Natural Disaster, Pan WHO 2003 dan pengalaman penulis saat Gempa Tsunami Aceh-Nias dan Tasikmalaya

    4 komentar:

    Blog Keluarga mengatakan...

    Berkunjung ke rumah pak dokter... napa ya koq susah banget komennya...

    Knowledger80 mengatakan...

    maaf kemarin saya nyalakan moderation commentnya , ini sudah diamtikan lagi agar lebih mudah comment, tapi belum ada commentnya ya:), terimakasih sudah mampir

    Prapti Utami mengatakan...

    Setuju dengan realita, bersama dokter dari luar, penanganan kasus bencana di Padang membuat ngilu hati (pengalaman pribadi, mungin yang lain tidak.). Mereka sudah menderita hati, fisikpun sangat nyata, anestesi tidak diberikan ke tangan dengan luka menganga, peluh menetes deras dari kening saudara kita..ikut merasakan ngilu....

    nanda olga elita mengatakan...

    hopefully in the coming year be a better year than at now